Laman

Perbandingan Unik antara SMA dan SMK

SMA, tut wuri handayani
Begitu tamat SMP, para siswa mulai dihadapkan dengan berbagai pilihan, salah satunya adalah memilih untuk melanjutkan sekolah dimana. Berbagai SMA favorit dituju dengan berbagai upaya. Tapi yang cukup menarik perhatian adalah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Hmm, SMK, istilah yang terdengar unik dikalangan masyarakat. Namun kita perlu melihat apa yang unik dari SMK dibandingkan SMA yang sudah cukup familiar selama ini.

Sekolah Menengah Kejuruan, mendengar namanya yang terbenak dipikiran kita adalah sekolah dengan berbagai bidang keahlian, seperti otomotif, elektro dan komputer. Berbeda dengan SMA yang hanya difokuskan kepada pelajaran sekolah biasa. Hal ini cukup menarik, jika kita melihat bahwa sebelumnya kita hanya berfokus pada pelajaran seperti Matematika, Kimia, Fisika.

Secara umum, sekolah menengah di Indonesia diwadahi tiga lembaga yakni SMA (sekolah Menengah Atas), SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan MA ( Madrasah Aliyah). SMA bertujuan diantara menyediakan dan menyiapkan siswa/i yang hendak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi; akademi atau perguruan tinggi. Sedangkan SMK lebih ditujukan untuk menyediakan tenaga kerja tingkat menengah, dan MA, sebagaimana SMA bertujuan untuk mengantarkan siswa memasuki perguruan tinggi umum maupun perguruan tinggi Islam.
Kenyataannya tidak semua lulusan SMA berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena berbagai alasan. Begitu pula dengan lulusan SMK dan MA. Bahkan dari mereka ada yang menjadi pengangguran.




SMA



SMK


Ditujukan untuk siswa yang akan melanjutkan ke Perguruan TinggiDitujukan untuk siswa yang mau bekerja dan melanjutkan ke perguruan tinggi
Kurikulum SMA lebih banyak teori dari pada praktekKurikulum SMK lebih banyak praktek dari pada teori
Tamatannya tidak siap kerja dan tidak mandiriTamatannya siap kerja dan mandiri
Tempat belajar hanya di sekolahTempat belajar di sekolah dan dunia kerja


Melihat data perbedaan di atas, jelas terlihat bahwa SMK (terkesan) lebih menjanjikan masa depan dibanding SMA. Hal ini disebabkan karena :

  1. Kondisi perekonomian Indonesia yang belum bagus.
    Minggu lalu harga BBM naik lagi. Kenaikan harga BBM ini memicu kenaikan harga barang dan jasa yang lain. Harga kebutuhan pokok melonjak, biaya angkutan juga merangkak naik tetapi pendapatan masyarakat tetap. Hal ini menyebabkan beban ekonomi masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut menyebabkan biaya untuk pendidikan anak semakin susah untuk dipenuhi. Untuk itu, menyekolahkan anak dalam jangka waktu yang lama tentu sangat memberatkan orang tua. Solusi untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang lulusannya cepat dapat kerja tetapi tidak membutuhkan waktu lama. Sekolah tersebut adalah SMK karena hanya butuh waktu 3 tahun untuk dapat bekerja atau berwiramandiri. Sementara jika mengambil sekolah di SMA butuh waktu 8 tahun untuk dapat bekerja yakni 3 tahun di SMA dan 5 tahun di PT.

  2. Banyak lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
    Kurang dari 10 % lulusan SMA yang melanjukan kuliah di PT, padahal kurikulum SMA disetting untuk melanjutkan sekolah di PT. Ini tentu sangat ironis karena hampir 90% tamatan SMA terjun di dunia kerja padahal kurikulum SMA tidak disiapkan untuk bekerja. Akibatnya banyak lulusan SMA yang kalah bersaing dalam mencari pekerjaan karena mereka memang tidak siap kerja. Oleh karena itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk menambah jumlah SMK daripada mengembangkan SMA. Komposisi perbandingan yang dibuat adalah 70% SMK dan 30% SMA. Ini tentu dengan tujuan untuk menjadikan lulusan sekolah menengah yang siap kerja dan mandiri.

  3. Dunia kerja yang semakin kompetitif
    Kenaikan BBM menyebabkan banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan sehingga terjadi PHK besar-besaran. Kondisi ini meyebabkan para pencari kerja semakin banyak sementara lowongan kerja semakin sedikit. Sehingga persaingan dalam memperebutkan lowongan pekerjaan semakin ketat. Ketatnya persaingan mencari kerja menjadikan tamatan sekolah menengah harus orang yang kompeten di bidangnya dan siap kerja. SMK sangat piawai dalam mencetak lulusan yang siap kerja dibanding SMA.


  4. Namun jika kita melihat secara seksama, terlalu dini untuk menyimpulkan SMK lebih unggul dibandingkan SMA. Akhir-akhir ini pemerintah gencar mengiklankan (baca mensosialisasikan) SMK, sebagai sekolah masa depan, SMK bukan sekolah kelas dua, dan arah pendidikan Indonesia ke depan hendak menyetarakan jumlah SMA dan SMK. Maka tidak heran bermunculan iklan sosialisasi SMK di televisi dengan “bintang iklan” dari beberapa orang yang sudah punya nama. Ada seorang sebut saja selebritis pembawa acara yang mengaku lulusan SMK, ada seorang pejabat yang juga mengaku lulusan SMK, bahkan ada seorang direktur dengan anak buah kurang lebih 90 % lulusan SMK.
    Itu semua ditujukan untuk membangun citra bahwa SMK bukan sekolah nomor dua sebagai sekolah pencetak tenaga kerja yang mengandlkan otot saja. Tapi dengan iklan itu hendak menonjolkan bahwa lulusan SMK memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh SMA atau MA.

    Benarkah demikian, dari iklan itu saja kalau mau dicermati sebenarnya bukan SMK atau tidaknya, saya lebih melihat pada individunya. Bahwa kesuksesan lebih ditentukan pada keuletan, kegigihan seseorang menghadap tantangan. hal ini mengingat secara umum kualitas pendidkan di Indonesia yang sedemikian parah, rasanya sangat kecil kalau semata lembaga sekolah yang menjadikan seseorang sukses.
    Banyak juga lulusan SMA atau MA yang juga sukses, kalau di iklan dikatakan bahwa pekerjanya hampir semua lulusan SMK, maka ketika seorang dosen atau rektor yang lulusan SMA dapat saja ia mengiklankan bahwa Universitasnya hampir 90 % lebih lulusan SMA, direktur rumah sakit mengatakan bahwa para karyawannya yang perawat semua lulusan SPK. Hayooo big grin ..
    Maka yang paling penting adalah bagaimana kita membenahi pendidikan kita sehingga menghasilkan generasi muda yang siap menyambut tantangan zamannya baik di dunia kerja maupun dunia akademis.

    Dan inti yang terpenting adalah, kunci kesuksesan bukan tergantung apakah sekolah di SMA atau SMK, tetapi kerja keras dan niat dari diri kita sendiri thumbs up.

No comments:

Post a Comment